Khamis, 31 Disember 2009

~ jangan pernah rasa MEMILIKI ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
"rasa memiliki membawa kelalaian"-peribahasa Jawa-
Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya.
Tentu saja bukan sebagai kekasih.

Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat.
Pilihan menurut akal sehat.
Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, Dia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya.

Dia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah (meminang). Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya.
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abud Darda’,
dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya.

Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”,
fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu.
Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman.

Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman.

Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman,
”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

***
Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya.

Ini tak mudah.
Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman.
Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..

Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian.

Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”.

Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya.

Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.
Ya. Di jalan cinta pejuang, hakikat ini akan kita asah. Bahwa kita semua milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling mesra, dengan isteri yang paling setia, atau anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya..

taken from: Jalan Cinta Para Pejuang/ Gairah/ Sergapan Rasa Memiliki/…by Salim A. Fillah

Isnin, 30 November 2009

~kembara~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang




-dan bayu semalam berpuput lembut-

Sabtu, 28 November 2009

~ ilmu dan harta ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


Ilmu adalah panduan,
harta adalah alat.
Kedua-duanya adalah untuk menegakkan kebenaran,
bukan untuk mencari kepentingan dan
jauh sekali dari tujuan kesombongan dan kebanggaan.
(Kata-kata Hukama').

Ahad, 15 November 2009

~ aku hamba ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih



Sabtu, 14 November 2009

~ mawar mujahidah, perindu syurga Allah ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Mengasihani

Ketahuilah wahai mawar mujahidah,

Rasulullah s.a.w. dan generasi itu telah tiada! Lama sudah mereka berlalu meninggalkan kita. Kehadiran insan ajaib itulah telah memuliakan kita pada saat ini.

Muhammad, kekasih Ilahi. Baginda berjalan selangkah demi selangkah, meniti hari. Bermula dari seorang diri, menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Bukannya Baginda tidak berani dan takut mati, namun itulah tertib wahyu ketika itu, strategi Rabbi.

Ucapan Baginda tidak lahir dari nafsu melainkan wahyu yang suci. Ucapan yang hikmah dari kalbu yang jernih disambut oleh hati yang bersih dan jiwa yang fitri. Dimulainya mengajak manusia kepada Islam dengan menjernihkan fikrah, pendekatan akal, pemahaman dan menyentuh hati sanubari. Juga dengan jalan hujah dan keterangan, dengan hikmah dan pengajaran penuh seni.

Bilamana ada perdebatan dirungkaikan dengan baik dan menambat hati. Bilamana mendapat tekanan, rintangan serta siksaan, berlaku sabar dan melontarkan doa kasih nan sejati. Firman Allah:

أدع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن

Tahukah dikau mawarku?

Dengan rahmat dan kurnia Ilahi, seorang demi seorang ikut menyertai, dari golongan bangsawan mulia hingga hamba sahaya tidak mahu terkecuali. Lalu, terbentuklah masyarakat dan jemaah Islam pertama, jamaah Rasulullah dan para sahabi. Jemaah baru itu masih sangat kecil dan merupakan ghuroba’ (orang-orang yang asing) di Mekah, kota kelahiran Baginda sendiri.

Golongan ghuroba’ inilah yang kelihatan berjalan perlahan-lahan dan lambat, akhirnya menjadi kelompok yang mulia, gah, izzah dan menjadi generasi terbaik ummat ini. Mereka tak punya apa-apa, melainkan jiwa yang sarat keyakinan bahawa janji Allah itu pasti! Biarpun sehebat mana rintangan, jalan dakwah dan kebaikan terus berkembang dan panjinya berkibar tinggi.

Mengertilah duhai mawar mujahidah,

Jalan dakwah dan kebaikan inilah jalan yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. sehingga Islamlah seluruh jazirah Arab, demikian pula Parsi dan Romawi, mencabut jahiliyyah dan kehinaan dari akar umbi.Sabda Rasulullah s.a.w:

ألا إن الإسلام دائرة فدورا مع الإسلام حيت دار.الا إن السلطان والقرأن سيفترقان فلا تفارقوا الكتاب

‘Ingatlah bahawa Islam itu berputar, maka berputarlah kamu bersama Islam ke mana saja ia berputar. Ketahuilah bahawasanya penguasa dan al-Quran akan berpisah, maka janganlah kamu berpisah dari al-Quran.’

Duhai si mawar mujahidah calon bidadari Jannah…

Dalam langkah hidup ini, hanya ada dua jalan yang salah satunya perlu ditempuhi. Kita yang memilih jalan kita sendiri. Kalau kita tidak memilih jalan menuju Allah, pasti kita akan melangkah di jalan yang menuju kecelakaan diri sendiri; iaitulah jalan syaitan, nafsu, syahwat dan duniawi. Jalan keimanan itulah jalan ilahi dan jalan kesesatan itulah jalan iblisi. Orang yang berjalan di atas jalan Ilahi sentiasa berusaha mensucikan jiwa dan hati sementara orang yang berjalan di jalan iblisi, tiada sensitiviti dalam mengotori dan menodai hati.

Masing-masing berusaha dan masing-masing bergerak, meniti waktu dan hari, mendekati mati. Akhirnya, masing-masing kerdil menghadap Ilahi. Sudah tentu di sana , ada perbezaan antara keduanya di alam abadi. Tanyalah diri, mahukah kita mencampakkan diri ke lembah kehinaan pada saat bertemu Rabbi? Atau meletakkan diri ke darjat yang tinggi? Sudah tentu jawapan kita mengimpikan tempat di sisi Ilahi.

Namun, adakah sama orang yang sekadar berangan-angan tetapi tidak mempunyai persiapan yang serius untuk mengadap-Nya? Berapa ramai orang yang sanggup menjual harta dan dirinya demi membeli redha Allah? Sungguh, manusia lupa saat perjumpaan itu!

Dan kini hai mawar,

Zaman berganti zaman, Islam asing (gharib) kali kedua, hati-hati yang jernih fikrahnya menjadi ghuroba’. Golongan ini sedikit sekali kerana golongan ini sering mendapat tapisan demi tapisan dari Ilahi sehingga yang tinggal hanyalah orang-orang yang benar-benar ikhlas dengan-Nya. Oh, adakah kau masih teguh dengan prinsip muslimahmu aduhai si mawar berduri?

Kuingatkan diriku jua kerana aku juga dari kaummu wahai mawar,

Adakah amalan dan akhlak kita melayakkan diri kita termasuk dalam golongan ghuroba’ ini? Mungkinkah kelalaian kita yang berterusan ini akan menyebabkan kita turut tertapis dari jalan ini? Nauzubillah!

Ya Allah, bantulah kami untuk tetap layak berada dalam kebenaran, di atas jalan-Mu. Jangan sesekali Kau menapis kami dari rahmat dan jalan-Mu kerana kelalaian kami sendiri untuk mengubat hati dan mengubah sahsiah diri. Amin…

Nukilan Fatimah Syarha Mohd Noordin

Sabtu, 7 November 2009

~ senandung adik ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun

Sore itu, seusai sedikit pengisian adik itu mendekati saya. Suram matanya kala dia menghampiriku. Dalam sedu-sedak serak suaranya meluah rasa. Ah, adik, andai hatimu terguris, hati ini lebih lagi. Ya Allah mengapa Kau uji adikku ini dengan ujian seberat ini. Ya Allah, betapa aku berharap adik-adikku tidak pernah mengenal kalimah itu. Kalimah keramat buruan manusia; CINTA.

Bukan, bukan aku tak redha dengan ketentuanNya. Benar pengalamanlah guru terbaik buat manusia. Tapi berat benar hati ini pabila melihat mutiara-mutiara jernih itu mengalir laju di pipi adik itu.

Bukan, aku bukan manusia yang tidak percaya dengan cinta. Mana mungkin. Aku juga lahir dari rasa cinta. Dan aku hidup dan bernafas hingga detik ini juga kerana cinta. Aku mengenal dan kini bertatih di atas jalan ini hanya kerana cinta. Ya cinta; CINTA-NYA.

Bukan, bukan aku menyatakan tiada rasa cinta dalam hati manusia. Kalau tidak masakan aku mampu mengalirkan rasa kasih dan cinta ini buatmu adik. Tapi mana mungkin hamba mampu melawan Penciptanya. Tidak, sesekali tidak! Cinta manusia kan pasti ada penghujungnya, sedang kasih Sang Pencipta tiada nokhtahnya. Sesungguhnya hanya cinta yang berasaskan akad nikah sahaja yang mungkin kekal (ya, hanya mungkin, bukan pasti).

Maka adikku, dengarlah senandungku;

Jadilah pemburu cinta ILLAHI,
yang mencari cinta yang bermula dari ikatan suci
bukan diakhiri olehnya
Sesungguhnya tiada istilah di antaranya
Yakinlah janji ILLAHI
agar kecewa tak wujud dalam kamus diri
andai bukan di sini
pasti ada di sana nanti

-sabarlah sayang-

~ ingatan dariNya (3) ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diredhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku
Dan masuklah ke dalam syurga-Ku
(Al-Fajr:27-30)

Menjadi manusia yang benar-benar memahami dan melaksanakan tujuan penciptaanya bukanlah satu pilihan tapi satu keperluan.
Rasalah bertanggungjawab untuk hidup penuh erti kerana hidup di sini hanya sekali.
Bukankah setiap manusia pasti kembali kepada Tuhannya
Lalu apalagi yang kita harapkan selain kembali dalam redha-Nya?