Jumaat, 5 Februari 2010

~ia kecil ia GAGAH~

dengan nama Allah yang Maha Berkuasa lagi Maha Adil

Ada sebuah kisah, semasa Nabi Allah Ibrahim dihukum bakar. Ada seekor burung kecil, yang mengisi air di dalam paruhnya, lalu menyiram api yang membakar. Tingkah lakunya itu diperhatikan oleh makhluk Allah yang lain, lalu mereka pun bertanya kepada burung kecil itu,

“Wahai burung kecil, Buat apa kamu penat-penat mengambil air, sedangkan api yang membakar Nabi Ibrahim takkan terpadam dengan air yang kamu siram itu”

Lalu burung kecil menjawab :

“Memang ia tidak akan memadamkan api tersebut, tapi saya lebih takut kepada Allah kerana Allah akan menyoal saya nanti, apakah yang saya lakukan untuk agama Allah, dan Allah tidak akan bertanya sama ada saya berjaya memadamkan api itu ataupun tidak."

Lihatlah, burung sekecil ini pun mengerti akan soal ini. Lalu, bagaimana dengan kita?

InsyaAllah teruslah istiqamah dalam agama. Kelak Allah hanya akan tanya apa yang kita buat, bukan hasil yang kita dapat.

Wallahu'alam

Isnin, 1 Februari 2010

~perlu hidup untuk mati~

dengan nama Allah yang Maha Berkuasa untuk menghidupkan dan mematikan

Digit pada usia......
baru saja bertambah
Rupa bentuk badan......
dah tak boleh diubah
Perangai baru dan lama......
perlu segera berubah
Nilai pahala dan dosa......
harapnya sempat digubah
Tempoh hidup di dunia......
tak mungkin bertambah

Hidup
memang bermula hari ini
kerana aku perlu hidup
untuk menempuh mati

najwa aiman

-subhanallah, walhamdulillah,waasataghfirullah...Ya Allah moga sisa usiaku ini dilabur pada perkara yang bermanfaat semata...amin-

Ahad, 31 Januari 2010

~indahnya bahasa (3) ~

dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani

biar mati bergalang tanah, dari hidup bercermin bangkai

Khamis, 21 Januari 2010

~have you ever think 'That's Allah'~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah

Ahad, 17 Januari 2010

~ 1 Muslim ~

dengan nama Alah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

hanya berkongsi sebuah sajak yang mengetuk pintu hati dan minda


Dalam 1 Malaysia
kita berkongsi tanah
tapi tidak budaya
tidak juga bahasa
tidak juga agama
apatah lagi syahadah


Dalam1 Muslim
kita tidak berkongsi tanah
tapi kita mentauhidkan Allah
berkongsi Rasulullah
berpaksi satu syahadah
dan mati kita demi kalimah
Laa ilaha illallaah Muhammadar-rasulullaah

sumber: najwa aiman

Khamis, 14 Januari 2010

~ jika bukan lillah pasti lelah ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kala ini, terngiang-ngiang kata-kata seorang sahabat

'jika bukan lillah pasti lelah'

Terasa amat benar kata-kata itu. Andai bukan lillah akan sampai waktunya kita akan lelah. Tertanya-tanya sendiri untuk apa semua ini? Tanpa tujuan yang jelas, tahap kepenatan akan naik mendadak, dan akhirnya kita kan layu. Maka, semaklah kompas hati kita saban waktu. Betulkan tunjuk arahnya sebelum melangkah. Kerana...

'jika bukan lillah pasti lelah'

wallahu'alam

Khamis, 31 Disember 2009

~ jangan pernah rasa MEMILIKI ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
"rasa memiliki membawa kelalaian"-peribahasa Jawa-
Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya.
Tentu saja bukan sebagai kekasih.

Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat.
Pilihan menurut akal sehat.
Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, Dia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya.

Dia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah (meminang). Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya.
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abud Darda’,
dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya.

Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”,
fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu.
Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman.

Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman.

Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman,
”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

***
Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya.

Ini tak mudah.
Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman.
Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..

Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian.

Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”.

Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya.

Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.
Ya. Di jalan cinta pejuang, hakikat ini akan kita asah. Bahwa kita semua milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling mesra, dengan isteri yang paling setia, atau anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya..

taken from: Jalan Cinta Para Pejuang/ Gairah/ Sergapan Rasa Memiliki/…by Salim A. Fillah