Khamis, 31 Disember 2009

~ jangan pernah rasa MEMILIKI ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
"rasa memiliki membawa kelalaian"-peribahasa Jawa-
Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya.
Tentu saja bukan sebagai kekasih.

Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat.
Pilihan menurut akal sehat.
Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, Dia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya.

Dia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah (meminang). Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya.
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abud Darda’,
dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya.

Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”,
fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu.
Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman.

Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman.

Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman,
”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

***
Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya.

Ini tak mudah.
Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman.
Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..

Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian.

Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”.

Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya.

Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.
Ya. Di jalan cinta pejuang, hakikat ini akan kita asah. Bahwa kita semua milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling mesra, dengan isteri yang paling setia, atau anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya..

taken from: Jalan Cinta Para Pejuang/ Gairah/ Sergapan Rasa Memiliki/…by Salim A. Fillah

Isnin, 30 November 2009

~kembara~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang




-dan bayu semalam berpuput lembut-

Sabtu, 28 November 2009

~ ilmu dan harta ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


Ilmu adalah panduan,
harta adalah alat.
Kedua-duanya adalah untuk menegakkan kebenaran,
bukan untuk mencari kepentingan dan
jauh sekali dari tujuan kesombongan dan kebanggaan.
(Kata-kata Hukama').

Ahad, 15 November 2009

~ aku hamba ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih



Sabtu, 14 November 2009

~ mawar mujahidah, perindu syurga Allah ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Mengasihani

Ketahuilah wahai mawar mujahidah,

Rasulullah s.a.w. dan generasi itu telah tiada! Lama sudah mereka berlalu meninggalkan kita. Kehadiran insan ajaib itulah telah memuliakan kita pada saat ini.

Muhammad, kekasih Ilahi. Baginda berjalan selangkah demi selangkah, meniti hari. Bermula dari seorang diri, menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Bukannya Baginda tidak berani dan takut mati, namun itulah tertib wahyu ketika itu, strategi Rabbi.

Ucapan Baginda tidak lahir dari nafsu melainkan wahyu yang suci. Ucapan yang hikmah dari kalbu yang jernih disambut oleh hati yang bersih dan jiwa yang fitri. Dimulainya mengajak manusia kepada Islam dengan menjernihkan fikrah, pendekatan akal, pemahaman dan menyentuh hati sanubari. Juga dengan jalan hujah dan keterangan, dengan hikmah dan pengajaran penuh seni.

Bilamana ada perdebatan dirungkaikan dengan baik dan menambat hati. Bilamana mendapat tekanan, rintangan serta siksaan, berlaku sabar dan melontarkan doa kasih nan sejati. Firman Allah:

أدع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن

Tahukah dikau mawarku?

Dengan rahmat dan kurnia Ilahi, seorang demi seorang ikut menyertai, dari golongan bangsawan mulia hingga hamba sahaya tidak mahu terkecuali. Lalu, terbentuklah masyarakat dan jemaah Islam pertama, jamaah Rasulullah dan para sahabi. Jemaah baru itu masih sangat kecil dan merupakan ghuroba’ (orang-orang yang asing) di Mekah, kota kelahiran Baginda sendiri.

Golongan ghuroba’ inilah yang kelihatan berjalan perlahan-lahan dan lambat, akhirnya menjadi kelompok yang mulia, gah, izzah dan menjadi generasi terbaik ummat ini. Mereka tak punya apa-apa, melainkan jiwa yang sarat keyakinan bahawa janji Allah itu pasti! Biarpun sehebat mana rintangan, jalan dakwah dan kebaikan terus berkembang dan panjinya berkibar tinggi.

Mengertilah duhai mawar mujahidah,

Jalan dakwah dan kebaikan inilah jalan yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. sehingga Islamlah seluruh jazirah Arab, demikian pula Parsi dan Romawi, mencabut jahiliyyah dan kehinaan dari akar umbi.Sabda Rasulullah s.a.w:

ألا إن الإسلام دائرة فدورا مع الإسلام حيت دار.الا إن السلطان والقرأن سيفترقان فلا تفارقوا الكتاب

‘Ingatlah bahawa Islam itu berputar, maka berputarlah kamu bersama Islam ke mana saja ia berputar. Ketahuilah bahawasanya penguasa dan al-Quran akan berpisah, maka janganlah kamu berpisah dari al-Quran.’

Duhai si mawar mujahidah calon bidadari Jannah…

Dalam langkah hidup ini, hanya ada dua jalan yang salah satunya perlu ditempuhi. Kita yang memilih jalan kita sendiri. Kalau kita tidak memilih jalan menuju Allah, pasti kita akan melangkah di jalan yang menuju kecelakaan diri sendiri; iaitulah jalan syaitan, nafsu, syahwat dan duniawi. Jalan keimanan itulah jalan ilahi dan jalan kesesatan itulah jalan iblisi. Orang yang berjalan di atas jalan Ilahi sentiasa berusaha mensucikan jiwa dan hati sementara orang yang berjalan di jalan iblisi, tiada sensitiviti dalam mengotori dan menodai hati.

Masing-masing berusaha dan masing-masing bergerak, meniti waktu dan hari, mendekati mati. Akhirnya, masing-masing kerdil menghadap Ilahi. Sudah tentu di sana , ada perbezaan antara keduanya di alam abadi. Tanyalah diri, mahukah kita mencampakkan diri ke lembah kehinaan pada saat bertemu Rabbi? Atau meletakkan diri ke darjat yang tinggi? Sudah tentu jawapan kita mengimpikan tempat di sisi Ilahi.

Namun, adakah sama orang yang sekadar berangan-angan tetapi tidak mempunyai persiapan yang serius untuk mengadap-Nya? Berapa ramai orang yang sanggup menjual harta dan dirinya demi membeli redha Allah? Sungguh, manusia lupa saat perjumpaan itu!

Dan kini hai mawar,

Zaman berganti zaman, Islam asing (gharib) kali kedua, hati-hati yang jernih fikrahnya menjadi ghuroba’. Golongan ini sedikit sekali kerana golongan ini sering mendapat tapisan demi tapisan dari Ilahi sehingga yang tinggal hanyalah orang-orang yang benar-benar ikhlas dengan-Nya. Oh, adakah kau masih teguh dengan prinsip muslimahmu aduhai si mawar berduri?

Kuingatkan diriku jua kerana aku juga dari kaummu wahai mawar,

Adakah amalan dan akhlak kita melayakkan diri kita termasuk dalam golongan ghuroba’ ini? Mungkinkah kelalaian kita yang berterusan ini akan menyebabkan kita turut tertapis dari jalan ini? Nauzubillah!

Ya Allah, bantulah kami untuk tetap layak berada dalam kebenaran, di atas jalan-Mu. Jangan sesekali Kau menapis kami dari rahmat dan jalan-Mu kerana kelalaian kami sendiri untuk mengubat hati dan mengubah sahsiah diri. Amin…

Nukilan Fatimah Syarha Mohd Noordin

Sabtu, 7 November 2009

~ senandung adik ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun

Sore itu, seusai sedikit pengisian adik itu mendekati saya. Suram matanya kala dia menghampiriku. Dalam sedu-sedak serak suaranya meluah rasa. Ah, adik, andai hatimu terguris, hati ini lebih lagi. Ya Allah mengapa Kau uji adikku ini dengan ujian seberat ini. Ya Allah, betapa aku berharap adik-adikku tidak pernah mengenal kalimah itu. Kalimah keramat buruan manusia; CINTA.

Bukan, bukan aku tak redha dengan ketentuanNya. Benar pengalamanlah guru terbaik buat manusia. Tapi berat benar hati ini pabila melihat mutiara-mutiara jernih itu mengalir laju di pipi adik itu.

Bukan, aku bukan manusia yang tidak percaya dengan cinta. Mana mungkin. Aku juga lahir dari rasa cinta. Dan aku hidup dan bernafas hingga detik ini juga kerana cinta. Aku mengenal dan kini bertatih di atas jalan ini hanya kerana cinta. Ya cinta; CINTA-NYA.

Bukan, bukan aku menyatakan tiada rasa cinta dalam hati manusia. Kalau tidak masakan aku mampu mengalirkan rasa kasih dan cinta ini buatmu adik. Tapi mana mungkin hamba mampu melawan Penciptanya. Tidak, sesekali tidak! Cinta manusia kan pasti ada penghujungnya, sedang kasih Sang Pencipta tiada nokhtahnya. Sesungguhnya hanya cinta yang berasaskan akad nikah sahaja yang mungkin kekal (ya, hanya mungkin, bukan pasti).

Maka adikku, dengarlah senandungku;

Jadilah pemburu cinta ILLAHI,
yang mencari cinta yang bermula dari ikatan suci
bukan diakhiri olehnya
Sesungguhnya tiada istilah di antaranya
Yakinlah janji ILLAHI
agar kecewa tak wujud dalam kamus diri
andai bukan di sini
pasti ada di sana nanti

-sabarlah sayang-

~ ingatan dariNya (3) ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diredhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku
Dan masuklah ke dalam syurga-Ku
(Al-Fajr:27-30)

Menjadi manusia yang benar-benar memahami dan melaksanakan tujuan penciptaanya bukanlah satu pilihan tapi satu keperluan.
Rasalah bertanggungjawab untuk hidup penuh erti kerana hidup di sini hanya sekali.
Bukankah setiap manusia pasti kembali kepada Tuhannya
Lalu apalagi yang kita harapkan selain kembali dalam redha-Nya?

Selasa, 3 November 2009

~ pabila tersingkapnya sebuah penyaksian ~

dengan nama Alah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Seperti selalu pertemuan singkat dengan para sahabat yang tersayang kan pasti menjadi tempat buat kami bertanya khabar iman kami dan bertukar-tukar cerita yang mampu meningkatkan iman kami. Dalam kerancakan perbualan itu, hati saya terkesan dengan sebuah cerita;

"Adik saya semakin memahami hakikat kalimah toyyibah itu. Saya benar-benar bersyukur. Dia semakin memahami kepentingan untuk menyampaikannya kepada orang lain. Katanya dia tak mampu untuk bercakap di khalayak ramai. Makanya dia telah memilih untuk meletakkan bahan bacaannya (yang berconteng nota tambahan) di surau tempatnya belajar. Dia ingin berkongsi kefahaman ini bersama-sama orang lain."

Terpana seketika. Saya memuhasabah diri sendiri. Ya Allah, seinfiniti kesyukuran kupanjatkan. Benarlah, pabila tersingkapnya sebuah penyaksian, segalanya mampu dilaksanakan.

Penyaksian menuntut anda menyampaikan kebenaran. Jangan biar insan tak berdosa dihukum, yang teraniaya tak terbela, hanya kerna kebenaran yang kita sembunyikan. Adik itu telah menyatakan kesaksiannya, kita bila lagi?

Wallahu'alam

Selasa, 27 Oktober 2009

~ cerita tentang derita ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Terngiang-ngiang dialog sebuah cerita:

'Boleh saya bantu anda'
'Saya tak tahu apa yang saya harus rasa, 2 orang sahabat yang saya sayangi sedang bergelut dengan maut. Saya merasa seolah-olah tuhan itu tidak wujud'
'Oh, tapi pada saya pada saat beginilah keyakinan saya pada tuhan semakin kuat'
'Hmm???'

Bagaimana pula kala derita kita boleh merasa bahagia??? Sebenarnya ada terlalu ramai orang membicarakan tentang perkara ini. Ianya kan menjadi tajuk yang panjang andai dibincangkan di sini. Cumanya saya terpanggil untuk berkongsi kata-kata di bawah ini bersama semua...

Siapa yang akan diberikan kebaikan (nikmat) oleh Allah diberikannya penderitaan(terlebih dahulu). (Hadis riwayat Bukhari).
Jadikanlah masalah itu sebagai tanda cinta ALLAH SWT pada kita bukan sebagai bebanan.

Sebuah musibah akan terasa menjadi kenikmatan jika kita berjaya menghadapinya dengan rasa syukur, sabar dan bertawakal serta merenungi hikmah dari setiap kejadian. (Kata-kata Hukama').


Anda hendaklah lebih banyak berfikir dan bercakap tentang pengalaman-pengalaman yang menggembirakan daripada pengalaman-pengalaman yang membawa duka nestapa. (Kata-kata Hukama')
-sabar menjadi pelangi di hati, mereka telah tiba, sesungguhnya janji Allah itu BENAR-

Isnin, 26 Oktober 2009

~bagaimana memahami ayat Allah yang ada di alam~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Dalam Al-qur’an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak mengenali atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya.

Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu

“…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan, 3:190-191)

Di banyak ayat dalam Alqur’an, pernyataan seperti, “Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”, “terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal,” memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah telah menciptakan beragam ciptaan yang tak terhitung jumlahnya untuk direnungkan. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini:

“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. An-Nahl, 16:11)

Marilah kita berpikir sejenak tentang satu saja dari beberapa ciptaan Allah yang disebutkan dalam ayat di atas, yakni kurma. Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada.

Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon? Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekadar kayu tak bermanfaat. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekadar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.

Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih pintar daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya, terdapat kecerdasan mengagumkan dalam apa yang dilakukan oleh biji. Namun, apakah sumber kecerdasan tersebut? Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa?

Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawapan: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini ada dalam pengetahuan Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak terbatas. Dalam sebuah ayat disebutkan:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al-An’aam, 6:59).

Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai tumbuh-tumbuhan baru. Dalam ayat lain Allah menyatakan:

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (QS. Al-An’aam, 6:95)

Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah SWT. (Harun Yahya)

kafemuslimah.com

Sabtu, 24 Oktober 2009

~ bawa hati ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

kembara diri mencari Tuhan
pasti ada mehnah dan ujian
bawalah hatimu kepada Tuhan
pasti segalanya rasa manisan
seindah seaman syurga idaman

Rabu, 21 Oktober 2009

~ selamat pendek umur ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Selamat pendek umur,” saya bergurau.
Sahabat saya agak tersentak, namun tetap senyum. Dia faham, saya hanya bergurau.
Kenapa pula?” tanyanya.
Dia kelihatan ceria. Hari ini ulang tahun hari kelahirannya. Saya meraikan dia dengan belanja makan di restoran berhampiran tempat kami bekerja.
Yalah, bukankah tarikh mati telah Allah tetapkan di dalam rahim ibu lagi. Ertinya, semakin hari, semakin dekat langkah kita menuju ketetapan itu.”
Makna, semakin hari semakin pendeklah umur kita?” tingkahnya penuh pengertian.
Ya, hari ini setapak lagi kita dekat dengan kematian.”
Pelik, selalunya bila hari lahir orang bercakap tentang hidup. Tentang kejayaan. Tentang pencapaian. Sekarang kita bercakap tentang kematian pula.”
Siapa yang tidak bercakap tentang mati akan ‘mati’,” balas saya.
Kenapa pula?”
Hukama berkata, sesiapa yang tidak tahu untuk apa dia akan mati, maka dia tidak layak hidup!”
Untuk apa kita mati?”
Untuk hidup,” kilas saya lagi, sekadar bermain kata, bersilat bahasa untuk meninggikan makna.
Dia diam. Menung dan alam fikirnya telah terusik barangkali.
Mati untuk hidup?”
Ya, mati bukanlah suatu pengakhiran tetapi hanya satu permulaan.”
Satu permulaan? Maksud kau?”
Mati adalah satu permulaan kepada hidup yang tidak mati-mati lagi – alam akhirat. Kau masih ingat kata-kata Umar Ibn Aziz yang aku sering ungkapkan dulu?”
Hampir terlupa. Waktu di kampus dulu?”
Umar berkata, manusia diciptakan untuk hidup selamanya. Hidup selepas mati itulah hidup yang hakiki!”
Terkesima dia. Jari-jarinya mula menepuk-nepuk meja. Perlahan. Tetapi saya yakin gerakan mindanya makin laju. Dia biasa begitu.
Jadi, hidup ini untuk mati dan mati itu untuk hidup?”
Wah, saya pula yang terkejut mendengar liuk lentok bahasanya. Berputar-putar seputar maknanya.
Ya. Hidup di sini, di dunia ini, adalah tanaman untuk tuaian pada hidup di sana, di akhirat. Itulah tujuan hidup yang fana ini, demi kelangsungan hidup yang baqa itu.”
Jika demikian apa ada pada umur?”
Umur hanyalah putaran suria, purnama dan buana yang dilakarkan oleh jarum jam, minit dan saat sebuah arloji,” balas saya. Seronok sekali sekala, berbual dengan bahasa berbunga di sulam kosa kata yang berputik dan berbuah.
Maksudnya kita abadi?”
Ya, tapi bukan abadi seperti Khalik (pencipta) yang tidak ada permulaan dan tidak ada pengakhiran. Kita tetap makhluk.”
Jika demikian, umur itu relatif juga kan?”
Ya, kan Einstein pun fahamnya begitu? Masih ingat Teori Relativiti masa?”
Panjang dan pendek umur bukan pada kuantiti tapi pada kualiti.”
Juga bukan pada yang zahir tapi juga yang maknawi.”Semakin rencam perbincangan kami. Tidak mengapa, sekali-sekala apa salahnya, berfalsafah kekadang lebih indah.
Imam Nawawi, pendek umurnya tetapi ‘panjang’ ilmu dan abadi jasanya. Imam Syafi’i, Imam Ghazali, tidak sempat pencen istilah orang sekarang, namun impak perjuangan mereka melangkaui dekad dan abad,” tambahnya memberi contoh.
Umar Ibn Aziz memerintah hanya kurang lebih 2 tahun sahaja tetapi keunggulannya mengatasi khalifah Umayyah sebelum dan selepasnya,” sambungnya lagi.
Rupa-rupanya petua nak panjangkan umur ialah dengan panjangkan amal, panjangkan ilmu, panjangkan jasa,” kata saya seakan merumuskan.
Harta boleh panjangkan umur…sedekah atau wakafkan, jadilah amal jariah. Pahalanya berterusan. Akhlak boleh panjangkan umur…hubungkan silaturahim, panjanglah umur kita. Demikian maksud hadis.”
Apakah rahsia kejayaan orang yang ‘panjang’ umur itu?”
Mereka sedar tentang tujuan! Mereka adalah peribadi yang sentiasa sedar akan tujuan segala sesuatu. Mereka tahu tujuan hidup, mereka tahu tujuan mati. Mereka mencari tujuan pada setiap tindakan.”
Hasilnya?”
Dunia sentiasa menyediakan jalan kepada orang yang punya tujuan. When there is will, there is a way!”
Tapi kita bukan mereka!”
Betul. Tapi itu bukan kelemahan, bahkan satu kekuatan. Setiap kita adalah unik. Tuhan tidak menciptakan manusia bodoh, tetapi Dia mencipta manusia dengan kebijaksanaan berbeza.”
Kita lebih bijak daripada mereka?”
Ya, di sudut-sudut tertentu. Seorang pemandu lebih bijak daripada seorang professor dari segi pemanduan kereta.”
Tetapi keintelektualan lebih berharga daripada kebolehan memandu kereta. Professor lebih berharga daripada seorang driver. Gaji mereka lebih tinggi.”
Maksudnya, umur seorang professor lebih ‘panjang’ berbanding seorang driver? Maksud kau begitu?”
Perbezaan itu bukan perbezaan taraf, tetapi perbezaan jalan. Jalan untuk seorang driver menjadi hamba Allah berbeza dengan jalan seorang professor. Itu sahaja.”
Kau tidak mengiktiraf darjat orang berilmu?”
Tidak begitu. Orang berilmu memang dilebihkan beberapa darjat…tapi dengan syarat, mereka takutkan Allah. Kan itu takrif sebenar seorang ulama’?
Maksudnya?”
Seorang driver yang takutkan Allah lebih tinggi darjatnya daripada seorang professor yang tidak takutkan Allah. Tetapi sekiranya kedua-duanya takutkan Allah, tentu sahaja ‘umur’ professor itu lebih panjang daripada umur driver lantaran ilmu dan amalannya yang lebih tinggi dan berharaga!”
Ah, surah al-Baqarah menukilkan seorang yang mati di jalan Allah hakikatnya terus hidup. Syuhada mendapat pahala dan kurnia berterusan daripada Allah. Jadi, satu petua lagi untuk panjang umur ialah mati syahid,” ujar saya mengalih arus perbualan.
Benarlah kata ahli sejarah, para sahabat Rasulullah itu hidup kerana mereka mencintai mati. Dan generasi hari ini ‘mati’ kerana terlalu mencintai hidup.”
Wah, terlalu panjang perbualan kita petang ini. Apa pun aku ingin mengucapkan ‘selamat panjang umur’ sempena hari lahir kau yang ke-40 tahun hari ini,” pintas saya sambil bangun.
Jam telah menunjukkan pukul 6 petang. Hari semakin pendek.
Eh, tadi kau kata ‘selamat pendek umur’, sekarang dah bertukar balik seperti ucapan biasa yang aku dengar, selamat panjang umur?” dia bertanya hairan.
Eh, kau lupa agaknya. Maksud ‘panjang umur’ku berbeza daripada biasa. Maksudku, selamat menambah ilmu, selamat menambah amal, selamat mengeratkan silaturahim, selamat menambahkan sedekah, selamat menambahkan rasa takut kepada Allah. Iulah maksud selamat panjang umur!”

-Dipetik daripada buku "Nota Hati Seorang Lelaki, Pahrol Mohd. Juoi"-

Di waktu segala jalan hubungan bumi ditutup orang, jalan hubungan ke langit lapang terluang...

Isnin, 19 Oktober 2009

~rintik-rintik kian lebat~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Adakalanya Allah memberi
sebelum sempat kita menadah tangan
kerana Dia tahu apa yang kita inginkan

Adakalanya Dia mengambil
sebelum sempat Dia memberi tahu
kerana Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk kita

Adakalanya Dia menguji
tanpa kita sedari
maka dianugerahkan akal untuk berfikir...
memilih jalan terbaik

~Ya Allah moga jalan yang dilorongkan ini adalah yang terbaik...pasakku kian kejap, biar rintik-rintik kian lebat...amin~

Ahad, 18 Oktober 2009

~usah meminta-minta~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Usah meminta cantiknya rupa
Kerna moleknya akhlak lebih utama

Usah meminta uwang berjuta
Kerna kaya ilmu lebih selesa

Usah meminta hati gembira
Kerna tak semesti bahagia di SANA

Pintalah redhaNya setiap ketika
Kerna itulah matlamat dicipta

~Ya Allah, kurniakanlah redhaMu dalam setiap desah nafas kami, dalam setiap gerak langkah kami, moga akhirnya kami kan bersatu di syurgaMu, amin~

Sabtu, 17 Oktober 2009

~ilmu dan kita~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Rasululllah S.A.W bersabda:

Barangsiapa yang menginginkan kesejahteraan di dunia, hendaklah dia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan kesejahteraan di akhirat hendaklah dia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan kesejahteraan di dunia dan akhirat hendaklah dia menguasai ilmu.

Hadith ini telah menerangkan kepentingan ilmu pengetahuan daik dalam kehidupan dunia mahupun akhirat. Tapi terdapat satu lagi perkara yang penting tentang ilmu ni. Ianya terkandung dalam sebuah lagi hadith;

Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah ketaqwaannya, maka tidak ada sesuatu apapun yang bertambah dalam dirinya kecuali jauh dari Allah. (Astagfirullah hal a'dzim)

Makanya, walau di ceruk mana pun kita berada, di padang pasir yang tandus atau bumi subur penuh berkah, atau tanah sedingin peti sejuk kita perlulah mencari ilmu. Meski kita jauh beribu batu dari para sahabat atau di tengah ramainya umat, kita perlu mencari ilmu itu. Namun yang pasti, berhentilah seketika dan renunglah sejenak, sejauh mana ilmu yang kita perolehi telah mengubah ketaqwaan kita kepada-Nya.

Wallahua'alam

Ahad, 4 Oktober 2009

~ air dan daei ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Analogi air utk para daie

Saudaraku jadilah air. Karena ia tak pernah berhenti dalam bergerak. Ia senantiasa terus mengalir membasahi tempat-tempat yang rendah. Dan setiap tempat yang dilaluinya sudah pasti ikut basah, lagi tanahnya subur dan baik bagi kehidupan. Walaupun kadangkala ia tertahan geraknya oleh tingginya halangan ataupun bendungan serta terjal dan berlikunya jalan yang harus dilaluinya, lambat tapi pasti, ia akan melewati halangan itu dan kemudian terus dan terus mengalir sampai muara. Bahkan sesekali ia memancar ke atas untuk keindahan, meluncur deras kebawah untuk kekuatan dan mengalir tenang untuk ketawadhu’anya.

Tapi saudaraku, janganlah engkau jadi air yang tidak pernah mengalir, yang hampa menggenang di satu tempat saja dan tidak pernah ada aliran baru yang masuk dan menggantikannya. Kerana air yang demikian lama kelamaan akan kering menguap, bahkan menjadi sarang penyakit yang akan merosak dan menghancurkan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Na’udzubillah.

“ Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan di lingkungan manusia, memerintah kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah ……… ”(Ali Imran : 110)

Wallahua'lam

~mohon dengan sangat ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Ku Mohon dengan sangat Ya Allah,
janganlah Kau kurniakan sesuatu yang aku pinta
semata-mata kerana belas & simpati-Mu Ya Allah
sedangkan ia hanya mendatangkan kemudaratan atas diriku.
Amin.

~bicara hati 1 ~

dengan nama Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Janji Tuhan tak pernah dimungkiri.
Setiap titis air mata, setiap derita dan sengsara pasti ada hikmah di sebaliknya.
Dan sesungguhnya sesuatu yang kita miliki setelah berusaha dengan segala kudrat yang ada itu lebih nikmat rasanya.

Rabu, 16 September 2009

~ dia kan berangkat pulang ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Senggang masa hanya sedikit
Ruang bermanja sejuring cuma

Kerna dia kan berangkat pulang
dia kan kembali seperti selalunya

namun Aku masih belum puas
Berteman dengan dia

Walau banyak masanya Aku hanya memejam mata
Walau banyak ketikanya Aku berkerja bagai tiada esoknya

lalu Aku bertanya sendiri
Kala takbir kemenangan berkumandang
apa kejayaan yang Aku raikan
apa pencapaian yang Aku agungkan

sedang dia kan berangkat pulang

Selasa, 8 September 2009

~ proses pendidikan ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih



"Mendidik tidak bererti mengajar orang akan apa yang mereka tidak ketahui tetapi mendidik adalah suatu pekerjaan yang memakan hati, yang perlu dijalankan terus menerus, yang sangat sulit dan perlu dilaksanakan dengan ramah-tamah, pengawasan, peringatan, perintah dan pujian serta terutama sekali -memberi teladan"


John Ruskin (1819-1900)


Satu daripada pandangan yang dapat menghuraikan proses pendididkan dengan baik (pada sayalah). Proses pendidikan tidak terhenti setakat hari ini sahaja. Malah seorang pendidik perlu berfikir bagaimana caranya untuk memastikan pendidikan yang diberikan pada waktu ini mampu memberi impak yang panjang dalam kehidupan insan yang dididik.



Dan janganlah anda berharap dengan mengajar sekali sahaja pelajaran itu akan mampu dicerna oleh semua orang. Sesungguhnya ianya perlu diulang-ulang agar ianya boleh dihuraikan oleh otak dan difahami dengan hati.



Memang proses mendidik adalah satu proses yang amat sulit; ianya menuntut pengorbanan dari segala segi. Maka apabila anda memilih untuk mendidik (tidak kira siapa yang anda ingin didik;ahli keluarga, sahabat, pasangan, anak murid) bersedialah untuk sebuah perjuangan yang menuntut pengorbanan demi satu pengorbanan. Ada seorang sahabat saya pernah berkata 'an educator is one of the most selfless person in this world, a good educator will always put others before themselves.'



Perkara yang terpenting dalam mendidik adalah memberi teladan. Sesungguhnya seorang pendidik itu amat perlu menitikberatkan tatacara dan perilaku mereka kerana insan-insan yang dididik akan sentiasa mengambil pendidik sebagai contoh ikutan mereka. Maka berusahalah menjadi contoh tauladan terbaik bagi insan-insan yang didik, apatah lagi jika kamu itu mendidik manusia untuk mengenal Tuhannya.

Wallahua'lam.

Ahad, 6 September 2009

~ setiap yang ada di atas tanah adalah tanah ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Hidupkanlah hatimu kerana hanya orang yang mempunyai hati yang hidup yang dapat mempengaruhi pendengar dan dan pengikutnya. Sedangkan orang yang mati hatinya tidak kan mungkin mampu menghidupkan hati orang lain kerana orang yang tidak memiliki sesuatu tidakkan mungkin dapat memberikannya kepada orang lain.

Manusia-manusia yang hidup hatinya ini pabila berkata-kata, akan masuklah segala-galanya ke hati para pendengarnya tanpa perlu meminta keizinan. Tapi, pabila kata-kata itu keluar hanya dari lidah maka pengaruhnya takkan sekali-kali melangkaui telinga. Malah mungkin saja masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Sesungguhnya hati manusia itu sama seperti tubuh badan, hati memerlukan tiga perkara untuk terus hidup dan sihat:

a) pemeliharaan supaya ia selamat
b) makanan supaya ia hidup
c) pengubatan supaya ia hidup

sumber:at-tarbiyyatulislamiyah wa madrasatu Hassan Al-Banna

Isnin, 31 Ogos 2009

~ bertebaranlah, bebaskanlah ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Semalam. KLIA sekali lagi menjadi saksi, adik-adik itu pergi, kan bertebaran di seluruh pelusuk dunia. Adik-adikku, jangan takut atau gentar. Sesungguhnya Dia ada menemanimu walau di ceruk mana kau diperuk. Bertebaranlah, teruslah melangkah, kerena sesungguhnya kita bangsa bebas merdeka yang layak melangkah ke mana saja. Dan ingatlah sesungguhnya kemerdekaan sebenarnya hanya ada pada jiwa-jiwa yang tunduk patuh menghambakan diri pada yang Esa.

Wallahua'alam.

Khamis, 27 Ogos 2009

~ quip quote ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih



If you want to know what a man's like

take a good look at how he treats his inferiors

not his equals

-go on, ponder yourself-

Ahad, 23 Ogos 2009

~ bicara Ramadhan ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

ada yang bertanya " kalu bulan puasa ni tak ada syaitan, maka kenapa masih ada yang tidak pulang ke pangkal jalan"

maka perlulah diingatkan "selain iblis, nafsu juga mendorong manusia melakukan pelbagai kesalahan"

"tapi bukankah puasa itu seharusnya dapat menundukkan nafsu itu?" bantahnya.

"jadi, bagaimana pula dengan manusia yang melakukan maksiat sedangkan dia bersolat. bukankah solat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar?"

suasana sepi... hanya kipas yang berputar ligat...

Sabtu, 22 Ogos 2009

~ DIA yang dirindu telah tiba ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

DIA yang dirindui telah hadir
berdiri tegap di hadapan pintu

Jemputlah DIA masuk
Persilakan dengan sopan
Layanlah dia dengan penuh kasih-sayang
Curahkanlah segala rindu dendammu padanya
Temani DIA saban waktu
seolah-olah kau tak mampu hidup tanpanya di sisi
Bawalah DIA kunjungi setiap taman indah yang ada
Biar rasa indah ini tersemat indah di hati

Moga ia jadi bekalan
buatmu menempuh 11 purnama tanpanya di sisi
Moga ia jadi motivasi
buatmu melangkah tanpa ragu-ragu lagi

DIA kan pasti pergi
Permergian DIA kan pasti ditangisi
Maka setiap detik 30 hari yang berharga ini
Janganlah disia-siakan seolah tak bererti
Kerna DIA berjanji akan berkunjung lagi
Cumaku takut aku yang tak mampu menepati janji
Kerna hanya janji ALLAH yang pasti

-Ya Allah, moga Ramadhan ini mampu membina diriku untuk perjalanan mendatang-

Khamis, 20 Ogos 2009

~ kids today ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Scene 1

A teacher passed by a 'surau' on her way home.
A little boy sat in front of the 'surau'

Ss: Thank you, teacher! (shouting on top of his lung)
T : (thinking a while before replying) Owh, good afternoon, my dear.

Well, actually I just taught the students about the importance of greeting. This little boy should be praised on his effort.


Scene 2

A class is learning about different type of animals.

Ss: Teacher, what bird is this? (pointing to a picture)
T : That is a peacock.
Ss: Teacher, what happend when a peacock lost the 'jambul' and tail?
T : She cried?
Ss: No! It becomes a duck. Ha Ha Ha!
T : =)

~ children's corner; wisdom in Islam 1 ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Q: How can I be the most learned person?
A: Fear Allah the All Mighty and you will the most learned person.

Q: How can I be the richest person in the world?
A: be contented and you will bw the richest person in the world.

Q: How can I be the most just person?
A: Desire for others what you desire for yourself and you will be the most just person.

Q: How can I be the best person?
A: Do good to others and you will be the best person.

~ kolam lumpur hujung taman ~

dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Seperti biasa, adik keluar pagi itu. Mentari bersinar megah di langit pagi. Nyaman sungguh pagi ini.

"Hm..." adik menarik nafas dalam-dalam.
"Selamat pagi burung," sapa adik pada beburung yang berkicau.

Lalu adik mengatur langkah ke taman permainan di hujung jalan. Adik melangkah satu-satu. Kemudian, adik berlari-lari anak. Tak sabar adik hendak sampai ke taman permainan. Terbayang-bayang kolam lumpur di hujung taman.

Sudah beberapa hari kawan-kawan adik mengajak adik bermain lumpur. Tapi adik menolak.

Adik takut.Nanti mama marah. Mama tarik telinga adik.

Paling adik takut kalau mama keluarkan rotan panjang. Nanti kaki adik berbelang macam kuda belang. Cumanya kaki adik belang merah bukan hitam putih.

Nanti adik tak boleh pakai cantik-cantik. Adik tak boleh pakai skirt yang baru mama beli. Merah jambu, berbunga kecil di bawahnya.

Adik nak pakai ke rumah Mak Cu. Esok hari lahir Mak Cu. Mesti seronok. Ada kek coklat, ada belon warna-warni, paling penting ada nasi ayam Mak Cu. Harum bau serai dan halia. Ayam bakar yang lazat. Tergiur adik dibuatnya. Seolah-olah segala juadah itu ada di depan mata.

Langkah adik terhenti.

'Adik tak boleh main lumpur!' bisik hati kecil adik.

Adik berpusing, hendak pulang.

"ADIK!!!' terdengar laungan dari hujung taman.

bersambung (entah bila)....

~ bagaimana caranya? ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Don't just do what you are told to do, but do what must be done

Sejak akhir-akhir ini sering berjumpa dengan sahabat yang sering bertanya

'apa yang perlu saya buat?'
'macam mana caranya untuk menjadi begitu dan begini?'
'saya dah cuba cara X tapi tak mendapat hasil yang sama pun?'

Kadang-kadang tak terjawab saya dibuatnya
Bukannya apa tapi tak semua yang saya lakukan boleh dilaksanakan
Segala-galanya bergantung pada banyak perkara
Jadi ada masa-masanya cara yang saya beri tidak boleh diguna pakai
Maka pada ketika itu gunalah cara yang anda rasa sesuai
Buatlah apa yang anda rasa perlu

Tapi, jangan sampai anda tak melakukan apa-apa kerana;

"sebagai da’i, jika anda tidak bergerak, maka itulah kesalahan paling besar.
bukan bergerak dengan cara yang salah itu yang terbesar kesalahannya."
Wallahua'lam

Selasa, 18 Ogos 2009

~ bahasa yang difahami ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

dia berbicara bahasa Tuhan
yang mampu didengari oleh si tuli
yang mampu dilihat oleh si buta
kerna ia mampu difahami oleh hati

-Ya Allah, aku ingin sepertinya, bicaranya sentuh ke hati, amin -

Khamis, 13 Ogos 2009

~ layakkah kita ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

(maaf, teks dalam bahasa Indonesia)

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur’an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah …

Isnin, 10 Ogos 2009

~ kala malam kelam ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Ya Allah, aku bermohon dengan sangat
leraikanlah segala yang tidak berkaitan denganMu, Ya Allah
kikislah segala karat-karat jahiliyah yang telah melekat legap selama ini
pinjamkan aku sedikit kekuatanMu buat menolak segala yang jelas batil
Amin Ya Rabbal A'lamin.

Ahad, 9 Ogos 2009

~ anda bukan keseorangan memimpinnya ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Ketika anda mengajak seseorang ke jalan yang benar, tiba-tiba anda terasa sangat gembira kerana sedikit usaha dari anda telah memberikan hasilnya. Anda terus diterima dan orang yang diajak mengikuti anda dengan pantas. Anda mengira anda telah melakukan sesuatu yang besar.

Anda harus sedar. Seseorang yang sedar ditangan anda sebenarnya bukannya hasil sepenuhnya dari usaha anda. Anda hanya mungkin hanya orang yang terakhir memegangnya dan membawanya ke satu ‘klick’ yang menyebabkannya tersentak dan terus mengikut kebenaran.

Sebelum anda telah ada banyak manusia lain yang telah sama-sama memberikan saham untuk menyedarkannya. Cuma apa yang telah dibuat oleh orang lain tidak dapat menyampaikannya ke tahap ‘klick’ tersebut. Mungkin usaha orang lain lebih banyak dari usaha anda. Anda hanya pelengkap.

Mungkin orang lain telah berlari beratus-ratus kilometer untuk membawa obor itu ke garisan akhir. Tetapi oleh kerana anda adalah pembawa obor terakhir, maka anda yang diraikan dan disanjung, bukan orang yang sebelumnya. Sedangkan anda mungkin hanya berlari beberapa meter yang terakhir sebelum tiba ke garisan.

Kefahaman ini mengingatkan anda betapa banyaknya manusia lain yang telah berkorban untuk usaha dakwah ini. Mereka berpenat lelah dan mungkin sebahagian dari mereka telah meninggal. Tetapi hasil usaha mereka itu kita kutip dengan mudah, kita petik dan membungkusnya indah-indah.

Inilah rahsia kata-kata Imam al-Syafie r.a:

الحر من راعى وداد لحظة أو تمسك بمن أفاده لفظة

atau dalam riwayat yang lain:

وَأَنَّ الْحُرَّ مَنْ رَاعَى وِدَادَ لَحْظَةٍ وَانْتَمَى لِمَنْ أَفَادَ لَفْظَةً

Orang yang merdeka itu ialah orang yang menjaga kasih sayang kepada seseorang walaupun walaupun ianya sebentar diperolehi, dan dia berpegang atau merasai terikat dengan seseorang yang pernah memberi faedahnya kepadanya walaupun dengan suatu perkataan.

Salman r.a tidak begitu cepat untuk beriman jika tidak hasil dari nasihat dari guru-gurunya sebelum dia tiba di Madinah. Zaid Amru r.a mempunyai sahamnya atas doa yang dibuat untuk menjadikan anaknya Said bin Zaid r.a menjadi muslim. Di belakang setiap hidayah, terdapat berapa ramai orang yang telah mendapat saham pahalanya.

Moga kita menghargai semua jasa mereka yang mungkin telah pergi, mereka yang masih ada tetapi mungkin telah jauh seketika dari dakwah, mereka yang masih berhempas pulas menyelamatkan ummah melawan arus jahiliyyah walaupun mereka tidak sama seperti kita dalam bentuk usahanya…. dan ramai lagi yang kita tidak kenali mereka, tetapi Allah mengenali nama-nama mereka.

Mereka semua telah memberikan jasa dan saham untuk dakwah yang sedang begitu rancak kembali sekarang..!

Moga Allah memberikan pahala saham orang-orang yang telah membina iman dan islamku walaupun aku sendiri tidak pernah mengingati mereka sekarang..!

http://muntalaq.wordpress.com/

Selasa, 4 Ogos 2009

~ hilaian sang batil, sorokan sang kebenaran ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Layakkah kebenaran itu disembunyikan?
Sedang hilai tawa musuh gegak gempita.
Kebenaran bukan malu,
Bukan juga tidak kuat dan kurang gentar.
Kepalsuan dan keindahan fana membuai jiwa-jiwa
Yang dalam bawah ketidaksedaran,
Kepalsuan itu bukannya kebenaran.
Layakkah kepalsuan bermahkota?
Sedang sedu-sedan pejuang menangisi kehilangan kebenaran,
Dari hati jiwa-jiwa yang lena terbuai dengan ayunan tangan-tangan halus,
Kehalusan kasar yang menipu semata.
Kesedaran pejuang, ingin bangkit menarik kebenaran,
Yang bukan segan, tetapi terbelenggu oleh rantai kepalsuan.
Sampai bila?
Pejuang tidak tahu erti menunggu.
Yang pejuang tahu, kebenaran itu harus pantas dikeluarkan dari sorokan.
Kepalsuan harus bersedia, mereka akan dikalahkan!

Khamis, 30 Julai 2009

~ lupa, leka atau terbiasa ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

tatkala mata memandang keindahan alam
perkataan 'Wah!'
sering mendahului 'Subhanallah'

tatkala pensel terlepas dari tangan
perkataan 'Oopps'
selalu sahaja mendahului 'Astagfirullah hal adzim'

tatkala berita buruk dikhabarkan
perkataan 'Kesian'
yang meluncur mendahului 'Innalillah'

kadangkala kite terlupa
ada masa kite terleka
mungkin juga kerna terbiasa

namun
moga tatkala maut menjemput
kalimah suci 'Laillah ha illallah'
mendahului segala kalimah

Rabu, 29 Julai 2009

~ pencorak kain ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

kala pagi yang hening
seorang penjual kain
menanti di depan pintu
pintanya belilah kain yang satu ini
kain yang sedikit cacat
telah terpercik warna hitam di permukaannya

rayuannya menyayat hatiku
mengigit sukmaku
lalu kuterima tawaran itu
walau ku tak tahu
apa yang mampu ku laku

lalu saban hari
aku mencorak kain itu
dengan warna baru
adakalanya dengan belaian penuh mesra
adakalanya dengan amarah yang membara
aku cuba segalanya
menutup tompok2 hitam itu

sangka ku
tompok2 hitam itu tak akan mengganggu
hanya kan jadi hiasan tak terpandang
malangnya
tompok2 itu bernyawa lagaknya
meresap dalam
merebak ke seluruh urat benang
membesar hari demi hari

sudah puas ku laku segala termampu
segala warna telah ku lakar
segala teknik telah ku tempa
namun hasil akhirnya
hitam likat legap tak terbayang

Ya Allah
habis sudah dayaku
lesap sudah tenagaku
tepu sudah mindaku
lesu tak bermaya

Maka buat sekian kalinya
hanya doa mampu ku kirim
seiring pemergianmu
walau bukan itu hendakku
tapi demi masa depan mu
demi yang terbaik buatmu

moga suatu hari nanti
kita kan bertemu lagi
dan semoga kala itu
kain mu indah berwarna warni
seindah pelangi

Isnin, 27 Julai 2009

~ benarkah bagai dikata? ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Dari kecil aku dah diberitahu... Allah itu Maha Kuasa.. hanya Dia yang patut digeruni...
Maka aku pun mengangguk-anggukan kepala...mengulang-ngulang frasa itu 'Allah Maha Kuasa'... Tapi aku cukup tak faham bila senja tiba... aku dimomok-momokkan... cepat masuk nanti kena sorok dengan hantu pisang... lalu aku pun berlari-lari anak...masuk ke rumah..semuanya gara-gara takutkan hantu pisang...

Pabila aku sudah bersekolah...ustaz ustazah mengajarku aku...kata mereka Allah itu Maha Kuasa... hanya Dia yang mampu memberi musibah pada semua... Maka aku pun mengangguk-anggukan kepala...mengulang-ngulang frasa itu 'Allah Maha Kuasa'... tapi aku cukup tak faham... suatu malam... 'senior' mengumpul kami dalam satu bilik... aku dimomokkan lagi... 'senior'lah yang 'berkuasa' di sini... andai kamu mahu hidup kamu senang di sini... ikut cakap kami... jika tidak...kan meranalah diri... dan aku tunduk patuh, pada setiap kata suruh... gara-gara takutkan hidup ku disusahkan 'senior'...

Kala aku ke luar negara... ibu bapaku berpesan padaku... hanya Allah yang Maha Kuasa... hanya Dia yang mampu membantu kamu... Maka aku pun mengangguk-anggukan kepala...mengulang-ngulang frasa itu 'Allah Maha Kuasa'... hanya Dia mampu membantu aku... tapi kala ujian menimpa diri.. aku berlari ke sana sini... mencari manusia-manusia biasa... meminta itu dan ini... kerna takut hidup di dunia tak sesenang mana...

aku jadi2 tertanya-tanya... mengapa ucapan itu tak terkesan di hati... mengapa susah memaknakan apa yang diajarkan... hinggalah aku mengenal dakwah dan tarbiyyah yang sebenar... yang mengajar aku merasa dengan hati, melihat dengan hati, mendengar dengan hati, dan melaksanakannay dengan hati juga... maka baru ku rasa 'kebesaran' itu Ya Allah.

~ ada pada ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

ketenangan ada pada jiwa yang mengingati-Nya
kekayaan ada pada jiwa yang memberi kerana-Nya
kebahagian ada pada jiwa yang bersyukur pada-Nya
kesabaran ada pada jiwa yang percaya pada janji-Nya
kebebasan ada pada jiwa yang menghambakan diri hanya pada-Nya

Ahad, 26 Julai 2009

~ benarkah kita telah bersyukur? ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Kita yakin bahawa sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Namun, mungkin sebagian besar besar daripada kita belum tentu yakin telah berterima kasih dengan sebenar-benarnya sesuai kehendak Maha Pencipta. Bahkan mungkin banyak antara kita yang masih menganggap nikmat Allah adalah hanya pemberian Allah berupa rezeki. Oleh kerana itu, banyak antara kita yang bersyukur atau mengucap syukur ‘hanya’ ketika beroleh rezeki. Sedangkan masih banyak kriteria lain yang mengharuskan seseorang itu bersyukur.

Sebelum kita mengukur diri, sejauh mana kita telah menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah, kita harus memahami bentuk dan maksud dari pengungkapan ‘syukur’ itu sendiri. Dalam Al-Quran dijelaskan bahawa maksud dari ungkapan syukur kepada Allah adalah sedaya upaya sedar kita untuk memfungsikan penglihatan, pendengaran dan hati secara benar. Hal ini dinyatakan dalam Al-Quran, surah An-Nahl (16:78); yang ertinya: ‘Sesungguhnya Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.’

Dari ayat tersebut kita memahami bahawa bentuk dan cara bersyukur bukan hanya hanya ucapan di mulut atau melakukan sujud syukur, tapi melibatkan seluruh proses diri khususnya penglihatan, pendengaran dan hati. Oleh sebab itu, seseorang yang memelihara pendengaran dengan menggunakannya kepada hal-hal yang baik; dan yang memfungsikan hati sesuai kehendakNya, dialah orang yang telah bersyukur.

Dengan demikian, orang-orang yang tidak memfungsikan pendengaran, penglihatan dan hati secara benar adalah orang-orang yang lalai. Ini dinyatakan dalam surah Al-A’raf (7:179), yang bermaksud: ‘Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakkannya dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu laksana binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Berdasarkan firman-firman Allah tersebut, ia mengubah persepsi kita tentang bentuk dan cara bersyukur. Jangan-jangan ucapan hamdalah dan sujud syukur kita selama ini sebagai tanda syukur tidak sampai kepada Allah, kerana kurang lengkap atau belum menepati kriteria Al-Quran dan sunnah. Mungkin saja Rasulullah memerintahkan kita mengucap hamdalah dan melakuan sujud syukur sebagai tanda ungkapan syukur kepada Allah dan dalam masa yang sama pendengaran, penglihatan dan hati kita sudah berfungsi secara benar.

Namun, kemungkinan tersebut bukan bererti bahawa ucapan hamdalah dan sujud syukur ‘tidak bererti’, tetapi harus diiringi dengan pemungsian potensi dalam diri kita secara benar. Jangan sampai mulut kita mengucap syukur dan dahi kita menyentuh lantai, maksiat tetap terus berlaku. Bahkan jangan sampai bentuk syukur kita kepada Allah malah menjadi ‘kufur’ menurut pandanganNya. Selain itu, dalam sebuah hadis dikatakan bahawa yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah yang paling pandai beryukur kepada manusia. Jadi bagaimana dengan kita?

Persoalan seterusnya ‘bila kita harus bersyukur?’ Mungkin kita juga kadang-kadang tidak dapat menjawabnya. Setiap tahunkah? Setiap bulankah? Setiap minggukah? Setiap jam, minit atau detik? Ketahuilah bahawa dalam setiap nafas dari seluruh nafas ada syukur yang wajib atasmu.

Syukur yang paling rendah, antaranya adalah menyakini bahawa seluruh nikmat datangnya dari Allah, tidak menggunakan nikmat Allah untuk maksiat, dan tidak membangkang perintah Allah. Pengakuan dengan lisan yang tulus kepada Allah bahawa kita tidak mampu mencapai tingkat syukur yang paling rendah sekalipun. Dengan demikian, jika kita ingin mencapai hakikat syukur paling sempurna, tidaklah kita terlepas dari pemungsian potensi diri khususnya hati kita.

Oleh kerana itu, belajarlah untuk bersyukur dengan segala nikmat yang ada. Bersihkan diri khususnya hati adalah penting kita lakukan. Sehingga akan terbentuklah diri kita yang mampu bersyukur sebanyak helaan nafas kita selama ini. Amin.

Rabu, 22 Julai 2009

~ ilmu dan hawa nafsu ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

"Kita sekarang berada di suatu zaman di mana hawa nafsu mengikut ilmu
dan akan tiba suatu zaman di mana ilmu mengikut hawa nafsu"

Di zaman manakah aku berada?
Apa maksudmu wahai hukama'?

Isnin, 20 Julai 2009

~ doa seorang peminjam ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

dan hari ini
seperti hari-hari yang lain
air mata itu gugur di antara jari-jari
yang sedang menadah tangan
memohon kekuatan
memohon ketabahan
dari Dia
yang telah
mengatur setiap ketentuan


Ya Allah yang Maha Pemurah
yang memberi pinjaman segala keperluan
redhakanlah hati ini
pabila perlu
memulangkan yang telah dipinjam
atau meminjamkan pinjaman kepada peminjam yang lain

janganlah Ya Allah
Kau penuhi hati ini
dengan rasa ingin memiliki
dengan rasa mempunyai
kerna takdir setiap yang dipinjami
tiada yang kekal abadi

~ pinjam meminjam ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Bicara bonda:
"Segala benda di dunia ini hanyalah pinjaman dari Allah.
Bila-bila masa Dia boleh mengambilnya kembali
dan memberi pinjam kepada orang lain"


Kala cahaya remang-remang, burung-burung bergegas pulang ke sarang, bonda memulakan bicaranya. Bicara yang menyentuh sukma, menggugah rasa. Saya sering berbicara tentang perkara ini. Tapi amanat dari seorang bonda membuat 'merasa' apa yang sering diperkatakan. Pesan ini bukanlah sesuatu yang jarang didengar. Tapi mungkin jarang dihayati dengan sesungguhnya. Pabila sesuatu perkara berlaku kita jadi tak tentu arah, menyalahkan setiap orang, menangis sampai bengkak-bengkak mata. Bukannya tak boleh, namun bukankah lebih baik jika kita redha dengan segala yang telah berlaku. Ingatlah bahawa benda yang dipinjam itu telah diambil kembali oleh Tuannya. Maka hati kita akan tenang dan lebih mudah merelakannya.

Wallahua'lam

Selasa, 14 Julai 2009

~ hanya untuk jadi kaya ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Mencari kekayaan dan kesenangan dunia tanpa dibatasi dengan keimanan dan kemuliaan akhlak akan menjejaskan ketenteraman, mencalar keadilan dan menghakis kemanusiaan.

Keimanan berperanan besar dalam membatasi jiwa manusia yang sarat dengan sifat loba, tidak cukup dengan yang sedikit, tidak puas dengan yang banyak dan tidak memadai dengan yang halal


(al-Iman wa al-Hayah - Syeikh Yusuf al-Qaradhawy).

~ berlari bukan melarikan diri ~

dengan nama Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

aku
dan larian
tak boleh dipisahkan

aku
suka berlari
dan melarikan diri

tapi saat ini
tapi di jalan ini
aku mahu berlari
tapi bukan melarikan diri

aku ingin berlari
dan terus memecut lagi
di atas jalan yang satu ini

pandulah aku Ya Illahi
agar aku tak melencong lagi
tapi tetap terus tegap di jalan ini
walau sebesar gunung ujian yang mendatangi

-saya dah ada jawapan untuk murobbi saya 'Ya, saya mahu lari lagi, saya akan terus lari, tapi bukan melarikan diri!'...Ya Allah pasakkan kakiku di jalan ini, kerna aku tak sanggup tercicir lagi-

Isnin, 13 Julai 2009

~ mahu kuat? ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

saya tak kuat
lalu saya memohon pertolongan
sahabat sy pesan 'mohonlah kekuatan dr Yang Maha Berkuasa'
lalu saya minta Allah pinjamkan kekuatanNya pada saya
dan Dia kurniakannya buat saya
Alhamdulillah
dengan pinjaman ini
segalanya menjadi mudah dan murah

Sabtu, 11 Julai 2009

~ they are here ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

they are here
they are the faces that I miss

they are here
they are the ones that show me the way

they are here
they are here to stay

-Ya Allah, moga kepulangan mereka akan memacu langkah ini dengan lebih laju lagi-

Selasa, 7 Julai 2009

~indahnya bahasa (2) ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

seperti kembang bunga cina

belum dipanggil sudah datang

belum disuruh sudah pergi

~ soar high ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

spread your wings
and just fly
soar high
aim for the sky
stop no more
turn no more
just go
make no excuses
even for
the teary eyes
as it is not tears or sadness
but of happiness
for sure

-bitter sweet of life... when its time to let go... you are not a little birdie no more... show them you are the eagle that soar-

Ahad, 5 Julai 2009

~ cari jalan pulang ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

sesat...

sewaktu saya mula2 pandai memandu, saya amat fobia dengan frasa tersebut... tersiksa amat jiwa saya pabila berjam2 masa terbuang gara2 sesat... dahlah kaki penat (kereta saya manual), duit pula habis membayar tol... perasaan bercampur baur... telefon yang berdering saya tak endahkan... radio ikim yang biasa berkumandang sengaja dibisukan... apa yang berlegar dalam kepala saya kala itu, hanyalah mencari jalan pulang... jalan yang akan membawa saya kembali ke destinasi sebenar... segala yang lain saya tak pedulikan... apa yang penting saya perlu sampai ke destinasi sebenar...

sedar tak sedar perkara ini sering berlaku... walau kita bukan seorang pemandu... adakalanya kita sesat dalam kehidupan... apa yang kita lakukan?

Teringat pada soalan seorang teman ' kalau kamu sesat apa yang kamu lakukan?'
'Cari jalan pulang,' balas saya.
'Habis tu kalau kamu sesat dalam kehidupan, apa pula yang kamu lakukan?' tambahnya lagi
Saya terdiam seketika, memikir apa jawapan yang perlu dituturkan.
'Kamu juga perlu cari jalan pulang... jalan kembali kepadaNya,' jelas teman itu.

Ya, walau dalam situasi apa pun, andai kita sesat, kita perlu cari jalan pulang. Dan tentu bagus, andai dalam usaha mencari jalan pulang, kita perlu fokus. Segala benda lain kita tidak ambil peduli. Yang paling penting kembali ke destinasi sebenar.

Dan pabila kita akhirnya tiba ke destinasi sebenar, kita akan merasa tenang dan bahagia sekali... dan segala penat lelah sebentar tadi bukan lagi perkara besar... semuanya hilang pabila kita telah selamat tiba....

Jadi pabila tersesat, carilah jalan pulang... walau amat penat dan berat, teruskanlah mencari jalan pulang... kerna pengakhirannya amat membahagiakan

Wallahu'alam

Jumaat, 3 Julai 2009

~ kamu tak pernah sendirian ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

ketika kau sudah menangis sekian lama & hatimu pedih,
Allah sudah menghitung air matamu...
jika kau fikir hidupmu sedang menunggu sesuatu & waktu berlalu begitu sahaja,
Allah sedang menunggu bersama2mu...
ketika kau merasa sendirian & teman2mu terlalu sibuk utk meluangkan masa utk mu,
Allah sentiasa berada di sampingmu...
ketika kau fikir kau sudah berusaha sesungguhnya & tak tahu hendak berbuat apa lagi,
Allah tahu jawapannya...
ketika segalanya menjadi sesuatu yg tak masuk akal & kau merasa tertekan,
Allah ada bersama2mu utk menenangkanmu...
jika tiba2 kau dapat melihat jejak2 harapan,
sebenarnya Allah sedang berbisik kepadamu...
jika segala sesuatu berjalan lancar & kau merasa ingin mengucap syukur,
Allah telah pun memberkatimu...
ketika sesuatu yg indah terjadi & kau dipenuhi ketakjuban,
Allah akan tersenyum kepadamu...
ketika kau memiliki tujuan utk dipenuhi & mimpi utk digenapi,
Allah sudah membuka matamu & memanggilmu dgn namamu...
oleh itu, ingatlah bahawa dimanapun kau berada
atau ke mana pun kau berada...
Allah senantiasa berada di sisi mu

Selasa, 30 Jun 2009

~ mintalah fatwa dari hatimu ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

"Kebaikkan itu dalam ketenteraman, dan kejahatan itu dalam keraguan"

Tersenyum saya kala terbaca kata-kata ini... betapa mudahnya persoalan yang sering berlegar2 dikepala saya kala remaja... saya sering tertanya2... apakah perkara yang aku lakukan ini satu dosa? Rupa2nya jawapannya terlalu hampir dan mudah... segalanya terkandung dalam hadith ke-27 dalam himpunan hadith 4o...

Kebaikkan itu pabila dilakukan akan mendatangkan ketenteraman dalam hati... walau ramai orang mengeji...walau ada yang mencaci..tapi hati tetap tenang melaksanakannya... tidak ada rasa ragu atau takut untuk mengulanginya lagi

Tapi kejahatan itu pabila dilakukan akan mengoncang hati... rasa ragu2 akan mengetuk pintu hati... walau manusia datang memuji silih berganti... memuji dan memuja... ketenangan dan keseronokkan itu sirna... inilah kali terakhir aku kan melakukannya kata hati...

Maka, andai ada persoalan diminda...mintalah fatwa dari hatimu... dari hati yang benar2 menyerah dan tunduk hanya pada Allah

- Ya Allah betapa kerdilnya aku saat ini... sesungguhnya benarlah segala janjiMu.. benarlah segala persoalan itu ada jawabnya..dan segalanya terkandung dalam Al-Quran dan hadith -

Isnin, 29 Jun 2009

~ mutiara sepanjang perjalanan ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

mutiara-mutiara indah ini sering menjadi penghias hidupku, jazakumullah semua

saban hari langkahmu kian berat, maka jiwamu mesti kuat

bila kamu merasa lemah, maka mintalah pertolongan, tapi bila kamu minta pertolongan, mintalah dari Yang Maha Kuasa, bukan hanya dari yang biasa-biasa sahaja

kejayaan atau kegagalan bukan alasan untuk kamu berhenti berjuang

to touch the heart of people deeply, your have to touch your heart deeply first

wherever you go, go with all your heart, whatever you do, do it with all your heart, so that the result that you'll get will fill your heart

if you keep repeating the same thing and expect the result to be different, be rest assured, it won't!

Ahad, 28 Jun 2009

~ permata jernih itu ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

mengapa
permata jernih itu
amat murah
amat mudah mengalir
hanya kerana seorang hamba yang lemah

namun
permata jernih itu
amat mahal
amat payah menitis
kerana Penciptanya Yang Maha Kuasa

apakah rasa takut itu lebih besar pada hamba yang lemah itu
apakah rasa sedih itu lebih banyak pada hamba yang dina itu
apakah rasa kasih itu lebih tinggi pada hamba yang pelupa itu


-tatkala airmata kian kering, basahkanlah jiwamu dengan zikir, Ya Allah, jangan Kau tarik nikmat yang satu ini-

~ tomorrow starts today ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Whatever you achieve today is actually depends on what you have done yesterday. As everybody has their own dreams, you must remember to prepare starting from today.

Many people said that their greatest dream is to live in heaven. So, logically they need to prepare themselves for it. If this is your dream you need to perform all the duty bestowed by Allah; fulfil the 5 pillars of Islam, do all the good deeds and left all the bad deeds and many more.

Obviously fulfiling the duty is not easy. If any of you ever said it is plainly simple and easy, maybe you actually have not perform all the duty or you have not done it at your best. Well, I may be wrong but I do believe that the sweetness of success at the end can only be achieved from the sweat of hardship in the beginning.

So, start preparing from today, this moment!

People said that "if you fail to plan, you plan to fail."
But, for me "if you fail to plan and perform, you plan to go to Hell!"

Sabtu, 27 Jun 2009

~ indahnya bahasa ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

bila dah dihuja, jangan ditarik ekor

Rabu, 24 Jun 2009

~ tanah rindu itu ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

tanah yang kurindu itu
tak tertegak pencakar langit
hanya reruntuhan tak sekata

tanah yang kurindu itu
tak saujana mata memandang
hanya tandus, kontang melata

tanah yang kurindu itu
tak sewangi setaman bunga
hanya hanyir darah, hangit asap semerbak bau

tanah yang kurindu itu
bukan warna warni pelangi menghiasi
hanya semerah langit saga

namun
apa yang memangilku
adalah semangat yang menyala-nyala
kebenaran yang tiada batasnya

namun
apa yang merayuku
adalah penyerahan kudus hanya kepadaNya
limpah ruah kasih hanya untukNya

dan kerana itulah
tanah rindu itu
amat menawan dikalbu

sungguh aku rindu tanah itu!!!

Isnin, 22 Jun 2009

~ mohon dengan sangat ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Ya Allah, lalainya hati-hati ini ya Allah, bangkitkan hati-hati ini ya Allah... jangan tidurkan kami lena dengan penipuan syaitan dan dunia, jangan dilatih kami menjadi bala tentera syaitan, jangan dijadikan kami malang dan miskin serta hina di akhirat kelak.... jangan jadikan kami gersang dan kontang daripada cinta-Mu...

Ya Allah, hati-hati ini telah lama tidur, telah lama lelap, telah lama leka, telah lama lalai, maka bangunkan kami, sedarkan kami kepada hakiki dunia ini, sedarkan kami kepada cinta yang hakiki, sampaikan kami kepada martabat cinta tertinggi...

Peritnya rasa kalau tiada mendapat lindungan rahmat dan redup-Mu di akhirat kelak. pedih rasanya kalau ketahuan bahawa Kau tiada mahu menghisab diri ini, jerih rasanya kalau Kau tiada mahu memandang diri yang hina ini.jangan ditarik semula hidayah daripada kami setelah Kau kurniakannya kepada kami, jangan Kau palingkan kami dari mendamba cinta-Mu ya Rabb,

Perluaskan hati kami untuk menampung ilmu-Mu yang tiada terkira banyaknya, terangkan hati kami agar jelas pandangan kami menuju pengakhiran yang sejati dan hakiki.... agar kami tiada tergolong dalam golongan yang rugi, agar tiada tergolong dalam golongan yang malang...

Amin...

Ahad, 21 Jun 2009

~ Kalau Dahi tak Mencecah Sejadah Di dunia ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

- sebuah puisi yang dihantar kepada saya, dikongsi di sini buat renungan semua -

Kalau Dahi tak Mencecah Sejadah Di dunia.....

Sudah Bersediakah Anda Ketika Dipanggil Pulang Oleh Allah SWT?!!!

Bersihkanlah dirimu sebelum kamu dimandikan!
Berwudhu'lah kamu sebelum kamu diwudhu'kan!
Bersolatlah kamu sebelum kamu disolatkan!
Tutuplah rambutmu sebelum rambutmu ditutupkan!
Dengan kain kafan yang serba putih!
Pada waktu itu tidak guna lagi bersedih....
Walaupun orang yang hadir itu merintih....

Selepas itu kamu akan diletak di atas lantai....
Lalu dilaksanakanlah solat Jenazah
Dengan empat kali takbir dan satu salam
Berserta Fatihah, Selawat dan doa....
Sebagai memenuhi tuntutan Fardhu Kifayah

Tapi apakah empat kali takbir itu dapat menebus....
Segala dosa meninggalkan solat sepanjang hidup?
Apakah solat Jenazah yang tanpa rukuk dan sujud....
Dapat membayar hutang rukuk dan sujudmu yang telah luput?

Sungguh tertipulah dirimu jika beranggapan demikian....
Justeru ku menyeru sekelian Muslimin dan Muslimat....
Usunglah dirimu ke tikar Solat....
Sebelum kamu diusung ke liang lahad....
Menjadi makanan cacing dan mamahan ulat!

Iringilah dirimu ke masjid....
Sebelum kamu diiringi ke Pusara!
Tangisilah dosa-dosamu di dunia....
Kerana tangisan tidak berguna lagi di alam baqa'!

Sucikanlah dirimu sebelum kamu disucikan!
Sedarlah kamu sebelum kamu disedarkan.. ..
Dengan panggilan 'Izrail yang menakutkan!
Berimanlah kamu sebelum kamu ditalkinkan!
Kerana ianya berguna untuk yang tinggal....
Bukan yang pergi!

Beristighfarlah kamu sebelum kamu diistighfarkan!
Namun ketika itu istighfar tidak menyelamatkan!

Ingatlah di mana saja kamu berada.....
Kamu tetap memijak bumi Tuhan!
Dan dibumbungi dengan langit Tuhan!
Serta menikmati rezeki Tuhan!
Justeru bila Dia menyeru....
Sambutlah seruan-Nya
Sebelum Dia....memanggilmu buat kali yang terakhirnya!
Ingatlah kamu dahulu hanya....
setitis air mani yang tidak bererti!

Lalu menjadi segumpal darah!
Lalu menjadi seketul daging!
Lalu daging itu membaluti tulang!
Lalu jadilah kamu insan yang mempunyai erti....

Ingatlah asal usulmu yang tidak bernilai itu....
Yang kalau jatuh ke tanah
Ayam tak patuk itik tak sudu!
Tapi Allah mengangkatmu ke suatu mercu....
Yang lebih agung dari malaikat!

Lahirmu bukan untuk dunia....
Tapi gunakanlah ia buat melayar bahtera akhirat!

Sambutlah seruan 'Hayya 'alas Solaah'....
Dengan penuh rela dan bersedia!
Sambutlah seruan 'Hayya 'alal Falaah'..
Jalan kemenangan akhirat dan dunia!

Ingatlah yang kekal ialah amal....
Menjadi bekal sepanjang jalan!
Menjadi teman di perjalanan...
Guna kembali ke pangkuan Tuhan!

Pada hari itu tiada berguna.
Harta, tahta dan putera....
Isteri, kad kredit dan kereta....
Kondominium, saham dan niaga....
Kalau dahi tak mencecah sejadah di dunia!!!

Rabu, 17 Jun 2009

~ ingatan dariNya (2) ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

"Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhan-Mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya matahari. Dan bertasbihlah kamu kepadaNya di malam hari dan setiap selesai mengerjakan solat"
(Qaaf:39-40)

Teringat pesan seorang teman 'mulut tempayan walau sebesar mana akan mampu ditutup, tapi mulut manusia takkan mampu kita tutup'. Maka, pabila berdepan dengan situasi ini apa yang perlu kita lakukan? Segalanya telah terjawab dalam ayat di atas; bersabarlah dan bertasbihlah. Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu tergolong dalam kalangan orang yang beruntung.

Pesan Allah "bertasbihlah sambil memuji Tuhan-Mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya matahari"; maka janganlah kamu tinggalkan amalan membaca mathurat.

Pesannya lagi "Dan bertasbihlah kamu kepadaNya di malam hari"; maka hidupkanlah malam-malammu wahai sahabat sekalian.

Indahkan surat cinta dariNya ini. Dia tahu masalah kita, dan Dia telah memberikan penyelesaiannya.

Allahuakbar!

-Moga diri ini mampu melaksanakan pesan-pesanMu, Ya Allah. Amin-

~ anak-anak dan gurunya ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

andainya anak-anakku takutkanNYA
sebagaimana mereka takutkkan guru disiplin

andainya anak-anakku mendengar kata-kataNYA
sebagaimana mereka menuruti kata-kata guru mereka

andainya anak-anakku mahu berhabis harta untukNYA
sebagaimana mereka berhabis semua tatkala Hari Guru menjelma

maka akulah insan paling gembira di dunia
dan mungkin juga di akhirat sana

Selasa, 16 Jun 2009

~ a junction ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

between a junction
i stood
undecided

my brain keeps whirling
my heart keeps turning

still thinking
still juggling

undecided
unthinkable

-Oh Allah, to Thee I face, only Thou can give me the best solution, I want to keep walking; even flying if I can, shower me with Your guidance and mercy-

Ahad, 14 Jun 2009

~ keberanian perlu dibina bukan dinanti ~

dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih

Dalam kehidupan seharian kita selalu belajar benda baru. Perkara-perkara baru ini perlu dilaksanakan untuk memberikan kesan kepada kehidupan kita. Untuk melaksanakannya kita perlukan keberanian. Maka, kita bertangguh untuk melaksanakannya kerana merasakan kita belum cukup berani. Hasilnya, kita terus menanti dan tak pernah mencuba perkara-perkara baru ini.

Tahukah kita, sebenarnya keberanian tidak boleh dinanti. Ianya perlu dibina. Bagaimana? Dengan melakukan perkara baru itu sedikit demi sedikit; dari skala kecil ke besar. Kerana andai kita terus menanti tanpa membuat apa-apa; hasilnya juga tiada apa-apa.

Oleh itu, binalah kekuatan itu dan jangan hanya menanti sahaja. Tapi, anda perlu tahu batas-batas perkara yang perlu dicuba.

Wallahu'alam